Tampilkan postingan dengan label pemasaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemasaran. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Januari 2011

Diprakarsai NGO Caritas: Aceh Selatan Ekspor Langsung Minyak Nilam

Aceh Selatan dalam waktu tidak terlalu lama akan melakukan ekspor langsung produksi minyak nilam ke pasar dunia.

Langkah ini sekaligus menjadi momentum kukuhnya kembali eksistensi minyak nilam Aceh Selatan di pasar dunia setelah puluhan tahun berada di bawah cengkeraman spekulan harga.

"Kita menginginkan menurunnya, pemasaran langsung ke pasar perdagangan dunia ini dilakukan atas bantuan dan prakarsa sebuah NGO dari sebuah negara di Eropa Tengah, Republik Czech. Bukan itu saja, pemrakarsa dimaksud, yaitu NGO Caritas juga memfasilitasi pembangunan sarana dan prasarana pendukung bagi pengembangan tanaman nilam di Aceh Selatan yang melibatkan 800 petani nilam di Kecamatan Pasie Raja dan Kluet Tengah.

Atas pembangunan sarana dan prasarana maupun inisiatif pemasaran minyak nilam (patchouli) oleh Caritas sama sekali tidak membebankan Pemkab Aceh Selatan secara finansial. "Kecuali hanya penyediaan lahan seluas 2 hektar di Pasie Raja," kata Syazalisma.

Ditambahkan, lahan yang dua hektar itu akan dijadikan sebagai pusat binaan yang didukung berbagai sarana dan prasaran yang dibangun oleh pihak Caritas. Di lokasi pusat binaan itu nantinya akan dilengkapi klinik, laboratorium, penyulingan nilam dan pembibitan.

Ditandatangani MoU

Menandai dimulainya kerjasama ini, di pengujung November 2010 lalu telah ditandangani nota kesepakatan (MoU) yang tertuang dalam program yang diberi nama Program Pemberdayaan Petani Nilan, antara Pemkab Aceh Selatan (Bupati Husin Yusuf) dengan pihak Caritas.

Penandatangan kesepakatan ini berlangsung di aula Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga yang dihadiri berbagai komponen. Antara lain, para eksportir, Dinas Perindagkop dan Disbunhut Provinsi Aceh, Sekdaprov dan Sekdakab, EDEF, pihak Project Managemen Unit (PMU), Project Management Consultan (PMC).

Czech Republic tempat asal NGO Caritas, adalah sebuah negara di Eropa Tengah yang berbatasan dengan Polandia di sebelah utara hingga timur laut, Jerman di barat laut, Austria di selatan dan di timur berbatasan dengan Slovakia. Caritas juga membentuk kerjasama serupa dengan Kabupaten Aceh Jaya, Aceh Barat dan Kabupaten Gayo Lues. "Yang menarik, mereka juga ikut membantu pemasaran dengan tujuan ingin menempatkan kedudukan harga sesuai standar harga ekspor," kata Cut Syazalisma.

Untuk itu, aspek kualitas juga tentunya menjadi pertimbangan utama. Dalam kaitan itu, penyulingan yang dibangun di pusat pembinaan Pasie Raja merupakan kilang canggih yang mampu menghasilkan minyak nilam sesuai permintaan konsumen. Misalnya, menyangkut warna yang diinginkan pembeli akan bisa dipenuhi. "Kalau ada pembeli yang menginginkan warga kehitaman atau coklat, semua itu bisa dipenuhi," katanya.

Nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman atsiri yang memiliki kedudukan penting untuk berbagai keperluan. Di Aceh Selatan marwah minyak nilam pernah mencapai masa jaya di abad lalu dengan melakukan ekspor langsung ke negara-negara Eropa melalui pelabuhan laut Tapaktuan. Kejayaan ini diraih oleh sebuah kongsi dagang para pengusaha lokal dengan pabrik penyulingan terbesar dibangun di Tapaktuan pada 1923 dengan merek dagang Aetherische Olien Pabriek yang konon merupakan perpanjangan VOC.

Namun kejayaan itu lama kelamaan pudar oleh situasi dunia yang tidak menguntungkan silih berganti, termasuk ketika meletus Perang Dunia II. Sejak itu pamor lembaran emas hijau merosot yang disimbulkan dengan kesengsaraan bagi lapisan petani nilam. (ma).

Rabu, 10 Maret 2010

Ekspor Nonmigas Aceh Melalui Belawan Capai US$ 17,19 Juta


Volume ekspor komoditas nonmigas Provinsi Aceh melalui pelabuhan Belawan, Sumatra Utara (Sumut), pada 2009 mencapai 6.664 ton dengan nilai US$ 17,19 juta.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh Syech Suhaimi di Banda Aceh, Selasa, menyebutkan meski Aceh memiliki pelabuhan ekspor impor, aktivitas perdagangan luar negeri melalui pelabuhan Belawan masih ada.

Komoditas yang diekspor melalui pelabuhan Belawan adalah kopi, ikan, udang, karet, kayu dan kain "krosja".

Menurut dia transaksi ekspor tersebut sebeanrnya cukup merugikan daerah karena devisa yang diterima di daerah berpenduduk sekitar 4,3 juta jiwa itu akan turun.

"Keuntungannya hanya dirasakan pengusaha, sedangkan daerah tidak ada," katanya.

Data BPS Aceh menyebutkan volume ekspor komoditas nonmigas Aceh pada 2009 sebesar 2,7 juta ton atau turun 19,02 persen dibandingkan 2008 yang mencapai 3,4 juta ton.

"Penurunan itu juga berdampak pada nilai ekspor dari 2,2 juta dolar AS menjadi 1,1 juta dolar AS atau turun sebesar 49,06 persen," katanya.

Ia mengatakan negara tujuan ekspor terbesar selama 2009 adalah Korea Selatan, sedangkan impor berasal dari Singapura sebesar 62,46 persen dari total nilai impor 72,28 juta dolar AS.

"Ekspor bahan bakar mineral menjadi penyumbang terbesar pasar ekspor Aceh, yakni senilai 1.049 juta dolar atau 92,19 persen dari total ekspor," katanya.

Menurut dia untuk volume impor 2009 terjadi peningkatan sebesar 162,77 persen dari 201.805,35 ton menjadi 530.276,51 ton pada 2009.

Kendati demikian, kata dia, dilihat dari segi nilai terjadi penurunan dari tahun sebelumnya yakni sebesar 62,64 persen, masing-masing 389,9 juta dolar AS 2008 dan 115,7 juta dolar AS 2009.

"Data tersebut diperoleh dari Bea dan Cukai Provinsi Aceh. Artinya seluruh kegiatan ekpor yang tercatat tersebut telah berada dalam kapal untuk dibawa ke negara tujuan,"," kata Syech Suhaimi. (ant/erl/iman)

Bagaimana Memulai Ekspor





Sebelum memulai kegiatan ekspor ada beberapa hal penting yang harus dilakukan antara lain:

  1. Mempersiapkan SDM sebaik mungkin.
  2. Mempersiapkan produk atau komoditas yang akan diperdagangkan (product knowledge).
  3. Mengetahui jalur distribusi produk atau komoditas yang akan diperdagangkan, negara-negara tujuan ekspor dan eksportir pesaing negara lain.
  4. Mampu menganalisa perkembangan atau peluang pasar dunia


1. Mempersiapkan SDM (Sumber Daya Manusia) sebaik mungkin.

Hal ini adalah penting sebagai dasar bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan. Suatu perusahaan ekspor harus memliki karyawan yang menguasai bahasa asing (dalam hal ini Bahasa Inggris), mengerti dan menguasai dalam pembuatan surat-surat penawaran (korespondensi), pembuatan dokumen ekspor dan tentunya mengusai dan mengerti tentang L/C atau sistem pembayaran ekspor lainnya seperti TT. Disamping itu suatu perusahaan ekspor komoditas pertanian juga harus memiliki orang-orang yang bertugas sebagai quality control (QC) barang, baik perusahaan tersebut sebagai produsen langsung ataupun sebagai trader karena qualitas barang yang dikirim akan menentukan performance kita di mata importir/buyer disamping ketepatan waktu pengiriman tentunya.

Beberapa contoh surat-surat dalam korespondensi sbb:



- Surat Perkenalan Perusahaan (Introduce Letter) Download Contoh

Surat ini dapat dikirimkan kepada calon-calon pembeli yang dianggap layak baik melalui e-mail, pos udara ataupun fax.

Isi surat ini menerangkan tentang sekilas profile perusahaan dan produk atau komoditas yang dimiliki.

-Surat Minat Dari Importir (Inquiry Letter) Download Contoh

Surat ini datangnya dari calon pembeli/importir biasanya setelah melihat profile perusahaan atau iklan yang kita pasangkan dibeberapa website atau atas referensi atase perdagangan kita diluar negeri.

Surat ini meminta agar kita memberikan penawarannya baik berupa harga (price), kemampuan supply (supply ability), kualitas yang kita miliki (quality), lamanya pengiriman (delivery time), kemasan (packing), syarat pembayaran (payment terms) dll yang dianggap perlu.



-Surat Penawaran (Offersheet) Download Contoh

Surat ini dibuat oleh eksportir kepada importir sebagai balasan atas surat minat dari importir dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sedemikian rupa sehingga menarik importir tersebut untuk terus berinteraksi sampai pada penempatan pesanan atau order.

Perlu diingat bahwa transaksi ekspor awalnya dilakukan melalui korespondensi terlebih dahulu baik melalui e-mail, surat ataupun faximile. Kop surat perusahaan harus tampil menarik (anggun dan indah) yang dapat memberikan nilai tambah dan tata bahasa yang digunakan baik dalam korespondensi maupun promosi/iklan dapat menjadi cermin dan eksistensi perusahaan.

2. Mempersiapkan Produk Atau Komoditas Ekspor

Sebelum melakukan penawaran kepada para calon pembeli pihak eksportir harus terlebih dahulu menyiapkan produk atau komoditas yang akan dilempar ke pasar dunia, untuk produk atau komoditas bukan hasil dari sebuah industri / pabrikasi sebaiknya mempersiapkan barang yang mudah didapat, jumlahnya yang dapat tersedia secara terus menerus (kontinuitas) dan mudah diproduksi. Suatu perusahaan wajib mengetahui secara detail produk tersebut baik menyangkut hal spesifikasi ataupun hal-hal lainnya. Untuk lebih mendukung dalam pemasaran nantinya sebaiknya suatu perusahaan juga menyiapkan sebuah website perusahaan atau dapat juga berupa katalog produknya untuk disertakan dalam korespondensi nantinya karena hal ini sering kali ditanyakan oleh pihak importir.


3. Mengetahui jalur distribusi produk atau komoditas yang akan diperdagangkan, negara-negara tujuan ekspor dan eksportir pesaing negara lain.

Bila kita telah memiliki suatu produk atau komoditas yang akan diekspor sebaiknya juga mengetahui jalur distribusinya, ke negara mana saja komoditas ini banyak diminati sehingga memudahkan kita dalam melakukan pemasaran.

Selain itu kitapun sebaiknya mengetahui negara-negara pesaing yang memiliki komoditas yang sejenis dengan negara kita baik kualitas yang mereka miliki serta harga yang mereka lempar ke pasar dunia. Hal ini bertujuan agar kita mampu bersaing dengan mereka untuk meraih pangsa pasar dunia yang tersedia.

4. Mampu menganalisa perkembangan atau peluang pasar dunia

Hal ini penting dilakukan bila kita ingin mengembangkan ekspor kita ke negara-negara lainnya dikarenakan banyaknya negara-negara didunia yang telah mendirikan pabrikasi pengolahan produk-produk hasil pertanian disamping sebagian juga mereka lempar kepasaran lokal seperti pasar-pasar tradisional ataupun supermarket seiring dengan terus berkembangnya populasi. Disamping itu perlu juga mengetahui trend harga pasar dunia untuk komoditas-komoditas yang akan dipasarkan.


Hal-hal tersebut di atas terlihat sepele, tetapi hal-hal tersebut pula yang dapat menyebabkan suatu perusahaan sulit sekali menjual komoditasnya ke luar negeri.

Selain itu fdianjurkan sesering mungkin melakukan diskusi baik dengan konsultan ataupun pelaku-pelaku bisnis yang telah memulai ekspornya terlebih dahulu guna menggali pengalamannya baik suka maupun dukanya sebagai pelajaran bagi perusahaan yang akan memulai ekspornya. Atau dapat pula mendapatkan pengalaman dan wawasan tambahan dari media masa ataupun internet.

Bila kita memiliki pesanan pertama (first order/trial order) ini adalah ujian bagi eksportir yang akan dinilai oleh importir tentang bonafiditas perusahaan eksportir, apakah eksportir dapat menjaga komitmen yang telah disepakati khususnya tentang kualitas dan ketepatan waktu. Tetapi bila eksportir dapat melalui tahapan ini maka kepercayaan akan tumbuh dari importir dan ini merupakan langkah awal dalam meraih keberhasilan dalam bisnis ekspor.

Lantas apa yang dilakukan bila kita telah dapat melakukan kegiatan ekspor?

  • Menjaga citra yang baik, dengan memberikan kinerja yang baik, informasi komoditas yang ditawarkan secara benar adanya serta selalu membalas surat baik melalui e-mail atau fax secara langsung tidak lebih dari 24 jam, karena pembeli biasanya menginginkan balasan segera mungkin.
  • Menjaga reputasi yang baik dengan terus menjaga mutu dan ketepatan waktu sehingga pembeli akan terus percaya terhadap eksportir dan memudahkan bagi eksportir tersebut untuk mengembangkan pasar kepembeli lainnya.
  • Mengembangkan pangsa pasar dan menjaga pasar yang telah ada agar tidak lepas kepada pesaing lain.

(Iman, Rudi Setiawan & berbagai sumber)