Tampilkan postingan dengan label keuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keuangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Desember 2010

Menjadi Wira Usaha

Wira Usaha adalah kemampuan untuk berdiri sendiri dan memiliki kemampuan melihat dan menangkap peuang bisnis, mengumpulkan sumberdaya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungandan mengambil tindakan yang tepat dalam memastikan keberhsilan.

Ciri–Ciri
Seseorang dapat dikatakan sebagai wirausaha apabila ia memiliki ciri–ciri sebagai berikut :
1. Percaya diri
2. Berorientasi pada tugas dan hasil
3. Pengambilan resiko
4. Kepemimpinan
5. Orisinalitas
6. Berorientasi pada masa depan

Watak Wirausaha
Watak yang melekat pada seorang wirausaha adalah :

1. Keyakinan, kemandirian, individualitas dan optimism

2. Kebutuhan untuk berprestasi, beorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekat keras mempunyai dorongan kuat, energik dan inisiatif,

3. Kemampuan untuk mengambil resiko yang wajar dan menyukai tantangan

4. Perilaku sebagai pemimpin, bergaul dengan orang lain, menanggapi saran dan kritik

5. Inovatif dan kreatif serta fleksibel

6. Pandangan ke depan perspektif

Sifat – Sifat Yang Harus Dimiliki Wirausaha
Untuk menjadi seorang wirausahawan yang sukses, diperlukan sifat – sifat sebagai berikut :
1. Terbuka pada pengalaman
2. Melihat sesuatu dengan cara pandang yang berbeda
3. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
4. Memiliki rasa tepo seliro (toleransi yang tinggi)
5. Mampu menerima perbedaan
6. Independen dalam pertimbangan, pemikiran dan tindakan
7. Membutuhkan dan menerima otonomi
8. Percaya pada diri sendiri
9. Berani mengambil resiko
10. Tekun dan ulet

Syarat – Syarat Wirausaha
Setiap wirausahawan pasti ingin sukses dalam menjalankan usahanya. Untuk itu seorang wirausahawan harus membekali dirinya dengan hal – hal sebagai berkut :
1. Memiliki sikap mental yang positif
2. Mampu berpikir kreatif
3. Rajin mencoba hal – hal yang baru ( inovatif )
4. Memiliki motivasi dan semangat juang yang tinggi
5. Mampu berkomunikasi

Kunci keberhasilan Wira Usaha
1. Kemauan yang keras
2. Perjuangan tak kenal lelah
3. Kesediaan menghadapi segala kemungkinan
4. Selalu berproses pikir positif
5. Telaten dan ulet dalam melakukan pekerjaan
6. Informasi dan konfirmasi harus selalu mendapatkan
7. Kreatif, ulet, telaten, sabar dan pantang menyerah

Perlu diingat bahwa kegiatan wira usaha akan menunjang ekonomi keluarga / pemerintah, baik industri dan perdagangan. Pertumbuhan industri yang diikuti kemajuan perdagangan akan melahirkan kesempatan kerja baru. Lapangan kerja baru ini akan menampung tenaga kerja baru,yang pada hakekatnya mengurangi pengangguran, mengatasi ketegangan sosial, meningkatkan taraf hidup masyarakat, memajukan ekonomi bangsa dan negara, pada akhirnya menentukan pula keberhasilan pembangunan nasional.


*Berpikirlah kemarin, Berbuatlah hari ini, Berjayalah hari esok*

Oleh: Iman & berbagai sumber.

Jumat, 26 Juni 2009

Pengelolaan Keuangan Keluarga

Uang seringkali menjadi penyebab terjadinya pertengkaran di dalam suatu keluarga, dimana perselisihan mengenai keuangan bisa saja terjadi disaat uang melimpah maupun disaat kekurangan. Banyak masyarakat merasa risih bila harus membicarakan masalah keuangan dalam keluarga. Oleh karena itu kita merasa perlu untuk terus menyerukan kepada semua kalangan masyarakat terutama pasangan suami istri untuk belajar saling terbuka mengenai keuangannya masing-masing. Setiap orang memiliki pandangan mengenai uang yang berbeda-beda karena suami atau istri dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Kegagalan dalam membicarakan soal uang di dalam keluarga tentu akan berpotensi pada timbulnya permasalahan pada suatu keluarga..

Banyak orang merasa bahwa membicarakan keuangan dalam keluarga adalah tabu. Namun menurut hemat kami, hal ini malah seharusnya dibicarakan. Banyak sebagian masyarakat pernah berpikir, Apakah dengan membiarkan persoalan keuangan dalam keluarga belarut-larut akan menyelesaikan segalanya? Atau bisa menjadi bola salju yang terus membesar? Persoalan kecil bisa menjadi besar bila tidak diatasi dan diselesaikan dengan bijak. Oleh karena itu dalam hal keuangan keluarga sangat dibutuhkan sebuah pola pengelolaan dimana masing-masing individu di dalam keluarga (suami dan istri) memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Dengan pembagian tanggung jawab serta diskusi yang mendalam dapat meringankan persoalan yang mungkin timbul di masa depan.

Berikut ini ada tiga tipe pengelolaan yang bisa di pilih sesuai dengan keinginan Anda bersama dengan pasangan Anda. Tentunya masih banyak lagi pola pengelolaan yang ada, namun hal yang terpenting disini adalah saling keterbukaan dalam menjalani kehidupan keluarga dengan tanggung jawab yang bersama pula

Berikut ini ada beberapa alternative system pengelolaan keuangan keluarga yaitu :

1. Uang bersama dan Sistem Amplop.

Penghasilan suami istri langsung digabung bersama. Setelah itu, gabungan kedua pendapatan langsung dialokasikan ke pos-pos pengeluaran rutin yang telah dihitung lebih dulu. Lazimnya, setiap pos diwakili oleh satu amplop. Pos-pos pengeluaran itu, pada beberapa keluarga, bukan saja kebutuhan rumah tangga makan minum, dan listrik saja, tapi juga termasuk membayar kredit rumah, cicilan mobil, listrik, telepon, uang sekolah anak, asuransi dan kebutuhan mobil (bensin, servis berkala, kerusakan, dan lain-lain). Bahkan tabungan, pengeluaran pribadi ayah-ibu dan liburan pun jadi amplop tersendiri. Bila ada sisa, dimasukkan ke dalam tabungan suami atau istri, atau khusus membuka lagi tabungan bersama di bank untuk ‘menampung’ sisa amplop setiap bulannya.

2. Membagi Berdasarkan Persentase.

Bentuk manajemen ini adalah membagi tanggung jawab dalam bentuk jumlah atau persentase Seluruh kebutuhan keluarga setiap bulan yang dihitung disini termasuk pos darurat dan pos tabungan. Masing-masing sepakat menyumbang sebesar jumlah tertentu untuk menutupi kebutuhan tersebut Sedangkan sisanya dapat digunakan sebagai tabungan pribadi untuk kebutuhan pribadi. Misalnya, istri membeli parfum, lipstik, atau baju. Bisa juga tanpa menghitung kebutuhan keluarga terlebih dahulu, suami-istri memberi kontribusi yang sama berdasarkan prosentase. Misalnya 80:20. Artinya, masing-masing “menyetor” 80 persen dari gajinya. Sisa 20 persen disimpan untuk diri sendiri. Jika bisa berhemat, dari uang bersama yang 80 persen, bisa tersisa untuk tabungan keluarga, di samping suami dan istri juga masing-masing punya tabungan pribadi.

3. Membagi Tanggung Jawab.

Misalnya, suami mengeluarkan biaya untuk urusan “berat”, seperti membayar kredit rumah, cicilan mobil, listrik, telepon, uang sekolah anak, kebutuhan mobil, dan asuransi. Sementara bagian istri adalah belanja logistik bulanan, pernak-pernik rumah, jajan, dan liburan akhir pekan dan pos tabungan. Dilihat dari jumlahnya, suami menanggung lebih banyak dana. Tapi istri juga punya peranan dalam kontribusi dana rumah tangga. Kalau ternyata istri yang memiliki pendapatan lebih besar, tentunya hal ini juga bisa dilakukan sebaliknya.

Mana yang terbaik? Hal ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan tentunya kesepakatan antara suami dan istri. Diskusikan hal ini dengan pasangan masing-masing, agar persoalan keuangan keluarga bukan lagi menjadi masalah dalam keluarga.

Kalau istri tidak bekerja? Bagaimana?

Ketiga contoh diatas merupakan pola alokasi dari pendapatan suami dan istri. Dimana suami dan istri bekerja dan menghasilkan pendapatan secara regular setiap bulannya. Bagaimana pula bila hanya suami atau istri yang bekerja? Sedangkan pasangan yang lainnya tinggal di rumah?

Bila hal ini yang menjadi pola keuangan di keluarga tentunya akan sangat baik bila pasangan suami istri membicarakan tugas serta tanggung jawab masing-masing. Mungkin sebagai suami karena bekerja maka ia yang berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga. Sedangkan istri yang tinggal di rumah bertanggung jawab dalam hal rumah tangga, mulai dari persoalan belanja harian maupun bulanan, sampai kepada alokasi tabungan (dari pendapatan suami) yang bertujuan sebagai simpanan keuangan keluarga yang dimiliki dan dalam hal ini istri pun harus seperti manejer dalam sebuah perusahaan, karena ia harus tahu dalam membedakan kebutuhan dan keinginan dimana maksud dari pedoman ini yaitu :

Kebutuhan apabila tidak di penuhi akan berpengaruh terhadap tercapainya kesejahteraan rumah tangga ( jika tidak terpenuhi maka akan menimbulkan masalah dalam keluarga ).

Keinginan apabila tidak di penuhi ia tidak akan membawa pengaruh yang besar di dalam mencapai kesejahteraan rumah tangga ( jika tidak terpenuhi ia tidak akan bermasalah di dalam keluarga).

Dengan membagi tanggung jawab bersama, suami tidak lagi merasa lebih dibandingkan dengan istri, karena kedua individu ini dalam keluarga tersebut memiliki tanggung jawab masing-masing. Untuk itulah keterbukaan dan diskusi mengenai keuangan menjadi sangat dibutuhkan.

Tiga hal penting dalam mengelola keuangan bersama:

Pertama, pembagian kerja sangatlah dibutuhkan dalam hal mengatur keuangan. Contoh singkatnya membuat Neraca Keuangan Keluarga (Gbr I), siapa yang membayar semua kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Misalkan istri yang harus membayarnya, maka suami dalam hal ini harus mentransfer dana yang cukup setiap bulannya untuk memenuhi semua kebutuhan keuangan keluarga. Bila suami/istri memutuskan untuk mendelegasikan satu orang untuk membayar semua tagihan bulanan keluarga maka hal penting yang harus diperhatikan adalah kejujuran. Dimana pihak suami/istri berdualah yang harus terbuka satu dengan yang lain berkenaan dengan permasalahan uang.

Kedua, pengeluaran yang disepakati menjadi sangat vital. Suami/istri berdua harus mencapai kata sepakat dalam merencanakan pengeluaran. Hal ini biasanya berkaitan dengan pengeluaran yang tidak tetap, misalkan keputusan untuk mengganti mobil dengan yang baru setelah beberapa tahun? Atau apa yang berdua pasangan pikirkan berkenaan dengan liburan? Sebagai kesimpulan, Suami /istri harus membicarakan dan bersepakat dalam kebutuhan yang harus dipenuhi, apa yang menjadi keinginan bersama dan apa yang dapat di penuhi bersama pula..

Hal terakhir yang menjadi sangat penting adalah menabung. Dalam hal ini visi kedepan menjadi sangat penting. Dimana dengan tujuan yang suami /istri telah disepakati sebelumnya dapat memberikan motivasi serta pemilihan strategi yang dapat membantu suami/istri mencapai tujuan masa depan yang dimiliki bersama. Dengan begitu suami /istri juga akan melihat pentingnya pengalokasian dana saat ini dan tentunya harus dimulai saat ini juga.
Demikianlah ulasan singkat seputar uang dalam kaitannya dengan hubungan suami istri di dalam keluarga. Semoga memberikan masukan dan tambahan ilmu bagi Anda.